Cerita sex dengan mertua

Gambar
Cerita Sex Dengan Mertua  Perkenalkan namaku adalah Diki, aku berusia 24 tahun, jujur wajahku tampan ( bukannya sombong ), tak heran kalau banyak wanita yang tergila gila padaku. Aku bekerja di perusahaan asing sebagai management. Kejadian ini berawal pada saat aku hidup berumah tangga, sudah 1 tahun lebih aku hidup berumah tangga, tapi belum juga dikaruniai seorang anak. aku punya seorang isteri yang sangat cantik, setia, sabar dan sikapnya dewasa, dia bekerja sebagai dokter disalah satu rumah sakit negeri diJakarta. Tiap malam jumat aku selalu melakukan hubungan sex dengan isteriku, bahkan bukan hanya hari itu juga tapi di hari ssenin itu sering kulakukan dengan isteriku. Aku punya mertua yang baik, perhatian, dan sayang terhadap menantunya. Mertuaku yang perempuan berumur 41 tahun. Tapi yang aku kagumi dari dia adalah tubuhnya masih singset, langsing, ramping, seksi, dan payudaranya yang lumayan montok, kulitnya pun masih mulus dan putih bersih, maklum dia indo peran...

Jatah untuk bapaka mertua



Jatah untuk Bapak Mertua



"Malam ini akan ada orang datang mau melamar kamu, Nduk."

Aku yang tengah menyeduh kopi, seketika berhenti. Aku tersentak oleh ucapan Bapak.

"Bapak ndak punya biaya untuk kamu lanjut sekolah. Jadi, Bapak pikir lebih baik kamu menikah," lanjut Bapak. Pria kurus itu tersenyum.

Selama ini, aku tidak pernah berani membantah perintah Bapak. Tapi, apakah dia tidak pernah berpikir bahwa saat ini tidaklah seperti saat dirinya muda dulu. Bukan zamannya perjodohan.

"Kamu ndah usah khawatir, Bapak sudah tahu kalau yang akan jadi calon suami kamu orang tampan. Dia juga dari keluarga terpandang. Kamu pasti suka." Bapak kembali menambahi.

Aku mengembuskan napas pelan. Bapak kali ini berbeda. Bahkan untuk urusan sepenting ini dia tidak meminta pendapatku.

"Sri pengennya kerja dulu, Pak. Pengen nabung," ucapku setelah meletakkan kopi di depan Bapak. Setelah lulus SMA, aku memang berencana untuk bekerja agar bisa membantu Bapak.

Bapak terlihat menghela napas. 

"Kerja di kota ndak semudah yang kamu pikir, Nduk. Kamu sudah tahu sendiri, banyak sekali anak-anak di desa ini yang kerja keluar, pulang-pulangnya malah bikin malu keluarga."

Jujur, aku kecewa karena ucapan Bapak menandakan kalau dia tidak percaya padaku. Tidak percaya kalau anak gadisnya ini bisa menjaga diri.

"Sri bisa menjaga diri, Pak."

Kali ini, embusan napas Bapak terdengar lebih jelas. 

Sejak kecil, aku memang didoktrin untuk selalu patuh pada orang tua. Apalagi Bapak selama ini tidak pernah membuatku kecewa. 

"Kamu hanya belum tau saja. Lingkungan punya pengaruh besar kehidupan kamu." Bapak tampak begitu bersikukuh.

"Ini terakhir kalinya Bapak meminta sama kamu, Nduk." Bapak menatapku dalam. "Penuhi keinginan Bapak. Menikahlah. Bukan untuk siapa-siapa, ini demi masa depan kamu."

Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. 

Bapak bangkit, lalu keluar dengan membawa segelas kopi yang tadi aku buatkan.

Tidak banyak yang bisa kuperbuat selain mengikuti keinginan Bapak. 

Berkali-kali kusugesti diri bahwa banyak pasangan yang bersatu lantaran dijodohkan, mereka hidup bahagia. 

***

"Tadi yang ikut itu Mbak Tari, kakak tertuaku," ucap Mas Bayu, lelaki yang tadi pagi menjabat tangan Bapak. 

Mbak Tari tadi pagi ikut mengantar Mas Bayu saat acara ijab kabul dilaksanakan di rumahku.

Bapak mertua juga ikut. Ah, aku awalnya mengira Bapak adalah abangnya Mas Bayu. Dilihat dari wajahnya, beliau seperti hanya terpaut lebih tua beberapa tahun dari Mas Bayu.

"Oh." Aku mengangguk.

Seperti kata Bapak, pria yang akan menjadi suamiku berparas tampan. Dia juga terlihat ramah dan bertutur lembut.

Seminggu setelah Mas Bayu meminangku, kami langsung menikah. 

Katanya, tidak baik bertunangan lama-lama. Dia juga ingin acara diadakan dengan sederhana. Biaya, dia semua yang tanggung. 

Awalnya kukira Mas Bayu berasal dari keluarga berkomomi biasa, tetapi setelah aku dibawa ke sini, aku tercengang. Rumahnya begitu besar dan mewah. 

"Aku mau keluar sebentar."

"Mau ke mana?"

"Cari angin."

Aku melihat jam diniding yang sudah menunjuk angka sebelas. 

Yang kudengar selama ini, sepasang pengantin kebanyakan tidak sabar untuk segera menikmati malam pertama. Tapi, tidak dengan Mas Bayu. Dia tampak biasa saja. 

Kupikir itu lebih baik. Aku masih perlu waktu untuk beradaptasi dengan hubungan yang kurasa sangat mendadak ini. Namun, aku akan berusaha mencintai Mas Bayu dengan ikhlas serta menjadi istri yang salehah.

Mas Bayu yang sudah keluar kamar, tiba-tiba membuka pintu dan melongok ke dalam. 

"Oh iya. Nanti kalau ada Bapak mau masuk, biarin aja."

Tentu saja aku bingung dengan ucapan Mas Bayu.

"Masuk?"

"Iya."

"Ke sini?"

Mas Bayu mengangguk dengan senyum kecil tersungging. 

Sungguh aku tidak paham dengan ucapannya. Masuk ke sini untuk apa?

Belum sempat aku kembali bertanya, Mas Bayu dengan cepat menutup pintu. Beragam tanya berjejal di dalam kepala.

Aku diliputi rasa bimbang. Bapak mertuaku memang sangat ramah, tetapi apa keperluannya denganku?

Apa sebaiknya aku menemani Mas Bayu? 

Saat aku baru saja bangkit, pintu kamar diketuk dari luar.

"Sri, kamu di dalam?"

Mendengar suara pria, jantungku seketika berdentam. Itu suara bapak Mas Bayu, mertuaku. 

Rasa takut menjalari dinding dada. Aku menggigit jari, mondar-mandir lantaran bingung harus berbuat apa. Sementara, pintu kamar semakin gencar diketuk oleh Bapak.

Aku lupa, pintu tidak terkunci. 

Benar saja, beberapa saat kemudian, handel pintu berputar. Daun pintu terbuka, menampilkan wajah mertuaku yang tengah tersenyum ramah.

"Kamu kenapa?"

"Mau apa Bapak ke sini?" tanyaku seketika.

Bapak hanya mematung. Pandangan itu terlihat seperti singa yang akan menerkamku. 

Pria di depanku tidak bersuara, dia mengayun langkah. 

Aku yang ketakutan beringsut mundur, hingga kemudian melihat sebilah cutter di atas meja kamar.

"Jangan takut, Sri ...."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nafsu birahi dengan mertua

Anak kandung

Cerita sex dengan mertua