Part 1. Lusi malang yang Ternoda
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
LUSI, SI MALANG YANG TERNODA
**
"Lusi mati gantung diri!"
"Lusi mati gantung diri!"
Teriakan dari perempatan jalan desa menggemparkan suasana Kamis sore itu. Lelaki-lelaki pengangguran di meja Wak Asih serempak menoleh. Kopi-kopi hangat yang baru terhidang tak dihiraukan, lima pria itu berdiri, menatap pengantar berita dengan jantung berdegam-degam.
"Di mana, Kar?" Wani bertanya. Suaranya lantang.
"Di rumahnya. Di kamarnya!" Pria kurus pembawa kabar berteriak. Suaranya bergetar. Kemudian berbalik badan dan berlari.
Tepat ketika pemilik warung menyembulkan kepala di ambang pintu, lima lekaki tersebut sudah sepuluh langkah berlari.
"Hei, siapa yang gantung diri?" teriak Wak Asih.
"Lusi!"
Wak Asih mengurut dada. Detak jantungnya bekerja dua kali lebih cepat. Kalimat istirja' berulang kali keluar dari mulutnya.
Usai tertegun sejenak, tergesa wanita berbaju lusuh itu menutup warung. Rasanya, kabar duka itu hanyalah mimpi. Lusi yang pendiam dan terkenal murah senyum, tidak mungkin senekat itu.
Gadis bernama asli Lusiana Faradita itu hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Semua inginnya terkabul. Baju-baju bagus, makanan enak, sekolah mahal, semuanya mudah didapat oleh Lusi. Liliana, ibunya, begitu sayang akannya. Pun dengan ayahnya, meski cuma bapak sambung.
Keadaan begitu mencekam ketika Wak Asih sampai di rumah duka. Orang-orang berkerumun. Tangis pilu wanita mendominasi suara-suara riuh dari para pelayat. Wanita-wanita yang menyaksikan tubuh pucat Lusi, tak sanggup menahan sesak. Mereka turut sedih dan menangis.
"Lusi ...." Untuk kesekian puluh kalinya, Liliana memanggil anak gadisnya yang terbujur kaku. Perempuan 39 tersebut tak menyangka jika pagi itu akan menjadi permulaan hari berlumur duka.
Setelah menyiapkan sarapan, Liliana bermaksud mengajak Lusi untuk sarapan. Gadis itu selalu bangun awal, tapi tidak langsung keluar kamar. Ia akan menghabiskan waktu untuk belajar atau membaca buku sebelum berangkat ke sekolah.
Sembari berseru nama Lusi, Liliana mengetuk pintu kamar sang anak dengan senyum merekah. Akan tetapi, ketukan dan panggilannya tak kunjung mendapat sahutan dari dalam.
Tak ayal, Liliana gelisah. Ia mencoba memutar gagang pintu kamar Lusi yang ternyata tidak terkunci. Hingga sesaat setelah pandangannya mengedar, Liliana merasa seolah dunianya hancur. Betapa tidak, Lusi ... ditemukannya tewas dengan tubuh tergantung.
"Ma, sudahlah, Ma." David memegang pundak Liliana. Untuk kesekian kalinya berusaha menenangkan sang istri. Namun, perempuan itu masih enggan melepaskan pelukannya dari tubuh dingin Lusi.
Tak kurang dua jam sejak Lusi ditemukan meninggal, warga Desa Durian yang melayat begitu ramai, bahkan dari desa tetangga. Selain berniat takziah, mereka hanya penasaran dan ingin mendengar kabar apa pemicu hingga Lusi nekat mengakhiri hidupnya.
"Kasihan Lusi, Ma. Jenazahnya harus segera diurus."
Liliana mengangkat wajah, menatap Dias dengan air mata berurai. Anak sambungnya itu mencoba menyunggingkan senyum meski terasa sangat berat. Meski Lusi bukan adik kandungnya, tetapi ia begitu menyayangi Lusi.
Dias menyentuh tangan sang mama, sebelum akhirnya perempuan itu mengalah.
David segera memerintah para petugas yang biasa mengurus jenazah wanita, untuk memulai pekerjaannya.
"Ada masalah apa Lusi, Pa?" Tangis Liliana kembali pecah. "Kenapa dia seperti ini ...."
"Entahlah, Ma. Saat ini, tidak ada yang bisa kita lakukan selain ikhlas dan mendoakannya, Ma. Mama yang sabar, ya," balas David, lalu mengembuskan napas panjang.
Pemulasaraan jenazah Lusi selesai. Setelah siap dan akan dibawa ke tempat peristirahatan terakhir, Liliana tak sanggup menahan tangisnya. Wanita itu meraung-raung.
***
"Dias, ada yang ngetuk pintu. Coba kamu lihat," kata David saat sedang bersantai di depan TV.
"Dias nggak dengar apa." Dias mengernyit.
"Kamu terlalu fokus ke HP, makanya gak denger."
Dias pun melangkah.
Dari celah pintu kamarnya, Liliana mengamati David yang tengah tersenyum melihat layar ponsel. Liliana menyayangkan sikap sang suami yang seakan biasa saja, padahal Lusi baru tadi pagi dikebumikan.
"Nggak ada siapa-siapa, Pa."
David terdiam setelah mendengar laporan dari sang anak.
"Jangan bercanda kamu!"
"Serius, Pa."
David bungkam.
"Jangan-jangan ....."
"Hush!" David menegur Dias yang pikirannya mulai ke mana-mana.
Liliana menelan ludah. Ia kembali teringat akan mendiang anaknya, Lusi.
"Pa, ada yang ngetuk lagi. Coba Papa yang liat. Dias takut."
Kali ini, tidak hanya David, Dias pun mendengar ketukan pintu.
David bangkit dengan sedikit rasa takut. Dia pun sempat berpikir hal sama, jika ketukan itu berasal dari arwah Lusi yang gentayangan.
Perlahan, David membuka pintu. Pria itu mengembuskan napas lega setelah melihat wanita tua di depan pintu.
"Mak Ijah," sapanya.
"Permisi, Pak David."
"Mak Ijah dari tadi?"
"Saya baru saja datang."
"Jadi, siapa tadi yang ...." David menggantung kalimatnya. "Ah, sudahlah. Ada perlu apa?"
"Saya ingin ketemu Ibu Liliana."
"Ada perlu apa?"
"Mak, silakan masuk."
David dan Mak Ijah menoleh ke arah suara. Ada sisa-sisa tangis di wajah Liliana, tetapi perempuan itu masih tersenyum.
David mundur selangkah demi memberi ruang kepada Mak Ijah untuk lewat.
"Kamu sudah makan?" Mak Ijah bertanya kepada Liliana saat keduanya berjalan.
Liliana mengangguk, kemudian mereka masuk ke kamar. Ia penasaran kenapa Mak Ijah datang menemuinya. Namun, ia akhirnya berpikir bahwa Mak Ijah datang untuk meminta biaya mengurus jenazah anaknya.
"Apa ini?" Mak Ijah bertanya saat melihat amplop disodorkan oleh Liliana.
"Biaya mengurus jenazan anak saya, Mak. Terimalah."
Mak Ijah menggeleng, tersenyum.
"Kami tidak pernah meminta tarif setiap mengurus jenazah, Bu. Kami melakukannya dengan ikhlas," tutur Mak Ijah.
"Terima kasih, Mak. Terima kasih banyak."
Mak Ijah mengangguk, kemudian pandangannya beralih pada pintu yang tertutup. Ada hal yang terus saja mengusik pikirannya sejak tadi pagi. Ia ingin memendamnya, tapi hati nuraninya berontak.
"Em, kamu pasti bertanya-tanya kenapa saya datang ke sini."
Liliana mengadu pandangan dengan Mak Ijah yang duduk menghadapnya.
"Mohon maaf sebelumnya," lanjut Mak Ijah. "Apa ... kamu sudah tau kalau ... Lusi sedang hamil?"
Sontak saja Liliana membulatkan mata. Dua tangannya membekap mulut. Kabar kematian Lusi sangat membuatnya terpukul, dan sekarang Mak Ijah menghantar kabar yang semakin membuat hatinya hancur.
"Di desa ini, saya sudah puluhan tahun menangani wanita mengandung, Bu. Saya terkejut saat memandikan Lusi dan mendapati tanda-tanda kalau dia tengah hamil."
Air mata Liliana tumpah. Ia menggeleng tanpa bisa berkata-kata.
Dengan siapa anak itu melakukannya?
Di atas segalanya, Liliana tidak yakin jika Lusi bisa berbuat haram sedemikian jauh. Yang ia tahu, Lusi adalah gadis yang baik dan jarang sekali keluar rumah.
"Juga ... ada lebam di lengan Lusi," sambung Mak Ijak dengan suara pelan.
Bunyi daun pintu ditutup membuat Mak Ijah dan Liliana menoleh seketika.
Siapa yang sedang mengintip? Mak Ijah memang sudah sepuh, tapi ia yakin kalau baru saja ada sepasang mata yang mengintip dari celah pintu.
Bersambung
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar