Part 2 Lusi malang yang Ternoda
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
LUSI, SI MALANG YANG TERNODA 2
.
"Siapa yang ngintip?" Mak Ijah bertanya.
Liliana bergegas bangkit, berjalan ke pintu dan membukanya.
Kepalanya melongok ke luar, tapi ia tidak melihat siapa-siapa.
"Tidak ada siapa-siapa." Liliana kembali, duduk di hadapan sang tamu.
Mak Ijah mengembuskan napas. Benaknya bertanya-tanya siapa yang baru saja mengintip dari celah pintu. Khawatir, tapi Mak Ijah tidak ingin berlarut-larut memikirkannya. Dia harus segera menuntaskan rasa janggal yang bersarang di hatinya.
"Mak, apa Mak Ijah tidak salah lihat?" tanya Liliana. "Tentang kondisi Lusi."
"Saya tidak salah lihat, Bu."
Liliana termenung. Benaknya berpikir keras, mencoba mengingat apa yang terjadi pada Lusi sebelum meninggal.
"Apa Lusi pernah jatuh atau apa saja yang membuat lengannya bisa lebam seperti itu?"
Wanita di depan Mak Ijah tersentak dari lamunannya. Ia menggeleng. Itulah yang baru saja dipikirkannya. Namun, ia tidak mengingat apakah Lusi pernah terjatuh.
"Lusi anak baik, Mak ...." Lagi-lagi, tangis Liliana tumpah. Nestapa yang datang begitu menyesakkan.
"Iya, Bu. Lusi anak baik." Mak Ijah mengelus lengan Liliana. "Tapi, maaf ... saya sedikit janggal dengan kematian Lusi."
"Maksud Mak Ijah?"
"Astaghfirullah." Mak Ijah mengusap dada. Wanita sepuh itu merasa bersalah telah ceroboh mengungkapkan rasa janggal di benaknya.
"Mak Ijah berpikir ada yang sengaja melenyapkan Lusi?" kejar Liliana.
Mak Ijah menatap Liliana ragu. Ia kemudian mengalihkan pandangan pada daun pintu kamar.
"Katakan, Mak," desak Liliana.
Mak Ijah akhirnya mengangguk, disusul isak Liliana.
"Semoga saja dugaan dan firasat saya salah, Bu."
Liliana tidak menanggapi ucapan Mak Ijah. Fokusnya kacau. Pikirannya berkelana pada masa-masa indah bersama Lusi, juga tentang hal-hal yang mungkin mengarah pada rencana gadis itu sebelum meninggal.
"Bu, kalau begitu saya permisi."
"Mak."
Mak Ijah menatap Liliana.
"Tolong jaga rahasia ini," pinta Liliana.
Perempuan sepuh itu tersenyum kecil.
"Tentu, Bu."
"Terima kasih, Mak."
Mak Ijah tersenyum lagi, lalu bangkit dan berlalu.
Terngiang ucapan Mak Ijah tentang kejanggalan tewasnya Lusi, Liliana berderap ke luar.
Di depan TV, Liliana hanya melihat Dias. David tidak terlihat di sana. Ia terus melangkah hingga akhirnya tiba di depan pintu kamar mendiang anaknya.
Suasana kamar Lusi membuatnya kembali teringat akan sosok Lusi. Ia menahan agar tangisnya tidak pecah.
Liliana mendekat ke arah meja rias. Ia membuka laci. Tidak ada sesuatu yang ia dapatkan sebagai petunjuk. Ada dua hal yang menjadi fokus pencariannya, ponsel milik Lusi dan buku hariannya.
Tap.
Sontak Liliana menoleh ke belakang. Ia mendengar seperti ada benda jatuh ke lantai. Pandangannya mengedar, tetapi ia tidak menemukan apa pun.
Perempuan itu bangkit, lalu berjalan ke arah lemari. Pakaian Lusi tertata rapi, seperti biasanya.
Setiap sisi lemari ia geledah, tapi ponsel Lusi tidak ditemukannya. Napas Liliana terpacu lebih kencang. Hingga kemudian matanya membulat ketika melihat kaca rias.
"Lusi!" Ia terpekik. Namun, sosok yang baru saja dilihatnya dari pantulan kaca tidak ada.
Napas Liliana mulai tersengal. Mengayun langkah untuk menuju di mana sosok Lusi tadi terlihat. Di dekat saklar lampu. Matanya kembali berair, rasa sedih membuatnya kembali rapuh.
Ptak.
"Lusi sayang." Liliana menyebut nama sang anak saat tiba-tiba lemari berbunyi. Pintu lemari terbuka dan bergoyang-goyang dengan pelan. Ia yakin jika Lusi sedang berada di ruangan yang sama dengannya. Gadis itu hadir.
"Kamu pulang, Nak?" Liliana melangkah. Saat mendekat pada lemari, ia merasakan embusan angin melewati tubuhnya.
"Lusi?"
Sebuah buku kecil tersemat di dalam saku baju yang digantung. Melihat itu, seketika Liliana berpikir jika Lusi mungkin ingin menunjukkan sesuatu padanya.
Dengan tangan gemetar, Liliana meraih buku kecil itu. Ia membuka perlahan. Foto Lusi dengan dirinya tertempel di halaman peratama.
"Mama, I love you."
Demikin tulisan singkat di bawah foto tersebut. Air mata Liliana pun kembali luruh. Bahunya berguncang. Didekapnya buku kecil tersebut dengan kuat.
Dua menit larut dalam tangis, Liliana teringat akan isi pada buku yang ditulis Lusi. Ia pun segera membukanya.
"Diary, hidupku hancur. Apa yang harus aku lakukan?"
Lusi menulisnya tujuh bulan lalu.
Detak jantung Liliana semakin kencang berdegam saat membaca kalimat-kalimat yang Lusi tulis dalam buku tersebut.
"Kehormatanku telah hilang, Diary. Aku wanita yang tidak lagi berguna. Aku wanita sampah."
"Setan-setan itu merenggutnya dengan paksa."
"Tapi, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku lemah. Aku rapuh. Sebab tidak ingin kehilangan Mama."
Liliana membekap mulut. Tidak pernah ia menyangka jika Lusi dirudapaksa. Tapi, siapa yang melakukannya? Kenapa Lusi tidak bercerita padanya?
Pikirannya menerka-nerka siapa dalang dari kehancuran belahan hatinya tersebut. Namun, tidak ada satu pun nama yang tersangkut di kepalanya. Dan sayangnya, Lusi tidak menuliskan siapa yang telah merudapaksanya.
Liliana kembali membuka lembar-lembar buku itu.
"Setan-setan itu ...." Liliana membaca ulang penggalan kalimat di buku diary Lusi. Jantungnya semakin berdentam. Kalimat itu petunjuk jika yang berbuat keji pada Lusi bukan hanya satu orang, melainkan lebih.
Perasaan Liliana semakin hancur. Air matanya mengurai untuk kesekian kalinya.
Liliana tidak berhenti di situ. Ia kembali mencari ponsel Lusi. Ia yakin jika di sana ada petunjuk yang bisa saja memecahkan siapa dalang dari kehancuran Lusi. Namun, usahanya tetap tidak membuahkan hasil.
Ia keluar dengan hati remuk.
"Papa mana, Dias?"
Ternyata Dias tidak ada di tempat semula. Ia berniat mengajak David untuk ke kantor polisi. Pelaku keji itu harus tertangkap dan mendapat balasan.
Rumah itu sepi. Liliana melihat tangga akses ke lantai atas. Semakin ia menaiki undakan tangga, terdengar sayup-sayup orang berbicara.
Langkah Liliana terjeda. Ia melihat David tengah menelepon dengan seseorang sambil menghisap sebatang tembakau.
"Urus dia. Malam ini juga. Dan ingat! Jangan sampai meninggalkan jejak!" Suara David tegas tertahan.
Entah mengapa, pikiran Liliana menyimpulkan jika suaminya turut terlibat atas tewasnya Lusi. Akal dan hati kecilnya berperang, antara percaya atau tidak.
"Mama."
Suara Dias dari dasar tangga membuat Liliana menoleh.
Celakanya, David juga mendengarnya. Pria itu melangkah pelan hingga terlihat Liliana berada di tangga. Berjarak dekat dengan dirinya kini.
"Jadi, kamu menguping percakapanku, Liana?" tanya David dengan tatapan dingin.
Emosi yang menguap, perlahan teredam saat Liliana mengikuti gerakan tangan David. Mata sembab Liliana melebar ketika David mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku celananya.
Bersambung
Bab selanjutnya baca di sini ya 👇
https://read.kbm.id/book/detail/96d4a945-95b4-4719-b844-da0b74c4872f
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar