Cerita sex dengan mertua

Gambar
Cerita Sex Dengan Mertua  Perkenalkan namaku adalah Diki, aku berusia 24 tahun, jujur wajahku tampan ( bukannya sombong ), tak heran kalau banyak wanita yang tergila gila padaku. Aku bekerja di perusahaan asing sebagai management. Kejadian ini berawal pada saat aku hidup berumah tangga, sudah 1 tahun lebih aku hidup berumah tangga, tapi belum juga dikaruniai seorang anak. aku punya seorang isteri yang sangat cantik, setia, sabar dan sikapnya dewasa, dia bekerja sebagai dokter disalah satu rumah sakit negeri diJakarta. Tiap malam jumat aku selalu melakukan hubungan sex dengan isteriku, bahkan bukan hanya hari itu juga tapi di hari ssenin itu sering kulakukan dengan isteriku. Aku punya mertua yang baik, perhatian, dan sayang terhadap menantunya. Mertuaku yang perempuan berumur 41 tahun. Tapi yang aku kagumi dari dia adalah tubuhnya masih singset, langsing, ramping, seksi, dan payudaranya yang lumayan montok, kulitnya pun masih mulus dan putih bersih, maklum dia indo peran...

Part 3 Lusi malang yang Ternoda

 LUSI, SI MALANG YANG TERNODA 3




"Jadi, kamu menguping percakapanku, Liana?" tanya David dengan tatapan dingin.


Emosi yang menguap, perlahan teredam saat Liliana mengikuti gerakan tangan David. Mata sembab Liliana melebar ketika David mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku celananya.


"Jadi ... kamu, Mas, yang—"


"Betul." David menyeringai. Langkahnya pelan terayun hingga pria itu berada di undakan tangga paling atas. "Padahal aku sudah melakukan segala usaha agar semua ini tidak tercium olehmu, Liana. Tapi, gara-gara orang tua itu, rencanaku berantakan."


"Kamu jahat, Mas!" Liliana memekik. Suaranya gemetar. Tak sedikit pun terbersit jika David yang selama ini begitu memperlakukannya dengan istimewa bisa berbuat sekejam itu.


"Aku tidak bisa menahan diri saat melihat Lusi, Liana. Dia begitu cantik."


Ucapan David yang terdengar enteng justru membuat jantung Liliana semakin kencang berdentam. Perempuan itu menggeleng dengan air mata tumpah untuk kali ke sekian. 


Dadanya berjejal dendam. Lelaki biad*b seperti David tidak pantas untuk hidup. Tempatnya adalah neraka. Namun, apa yang bisa dilakukannya, sementara David saat ini lebih unggul dalam segala hal?


"Kamu benar-benar bi*dab, Mas. Aku tidak akan memaafkanmu!"


"Maaf?" David tertawa. "Seharusnya kamu yang mengemis maaf padaku, Liana. Kamu sudah lancang dan mengacaukan semuanya. Karena aku laki-laki baik, aku akan membiarkanmu hidup dengan satu syarat. Kamu harus pura-pura tidak tahu tentang semua yang terjadi pada Lusi. Bagaimana?"


Tidak ada h*srat yang paling ingin Liliana tuntaskan saat ini selain mencabik-cabik wajah David. 


Langkah David membawanya semakin dekat pada Liliana. Perempuan itu menoleh ke bawah, pada Dias yang tampak ketakutan.


"Baik."


Ucapan Liliana membuat David menghentikan langkah. Tatapannya lurus pada wanita di bawahnya. Alisnya terangkat. Ada ragu di benaknya. Tentu tidak akan semudah itu baginya untuk percaya.


"Aku akan melupakan semuanya dan berpura-pura tidak ada yang terjadi. Tapi ...." Tiba-tiba Liliana bersimpuh. Ia mengiba pada David. "Aku mohon, biarkan aku hidup, Mas."


David tertawa kecil dan kembali meneruskan langkah. Ia merasa aman, tidak perlu mengotori tangannya untuk menghabisi Liliana.


"Nah, begitu seharusnya, Liliana. Kita harus tetap bersama. Karena aku masih sangat mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu, Mas." Liliana tersenyum, hingga kemudian menyeringai saat kaki kanan David mengayun untuk mendarat di anak tangga tepat di hadapannya. Kemudian, dengan cepat Liliana menarik kaki itu hingga David kehilangan keseimbangan.


"Papa!" Dias terpekik melihat tubuh papanya menggelinding jatuh. Sakit yang teramat dan tangga yang curam membuat David tidak bisa berbuat apa-apa, begitu juga dengan Dias yang tercengang.


Liliana berdiri, bersandar pada pagar tangga. Menyaksikan pria bedebah itu dan berharap nyawanya hilang seketika. 


"Papa, bangun, Pa ...."


Saat mendarat di lantai, terlihat darah mengalir dari kepala dan beberapa bagian tubuh David. Namun, ia masih bisa bergerak. 


Dengan tangan terangkat, David menatap Liliana yang tergesa turun dari atas. Pandangannya buram oleh darah yang mengaliri bola matanya.


Liliana sadar sepenuhnya jika Dias tidak akan berpihak padanya. Ia memutuskan untuk segera melarikan diri. 


Di depan gerbang, Liliana teringat percakapan David yang memerintahkan orang suruhannya melenyapkan Mak Ijah. Ia mengedarkan pandangan. Rencana David harus gagal, meski ia sadar akan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.


Liliana berlari ke jalan sebelah utara, jalan di mana Mak Ijah lewati untuk pulang. Wanita sepuh itu mungkin tidak jauh saat ini, mengingat ia pulang berjalan kaki. Apalagi dengan tongkat kayu sebagai penunjang kekuatannya berdiri.


Tiga ratus meter berlari, Liliana dihadapkan pada tiga cabang jalan. Satu adalah jalan pintas, akses tercepat untuk ke rumah Mak Ijah. Jalan selelebar satu depa orang dewasa. Harus melewati ratusan meter kebun karet untuk tembus ke tepi kebun.


Meski terang bulan tanggal 14 Safar, tidak mungkin Mak Ijah lewati di sana, pikir Liliana. Namun, Mak Ijah bukanlah seperti dirinya yang takut akan gelap.


"Ya Allah ...." Liliana nyaris frustasi, sementara detik terus berputar. "Tolong selamatkan Mak Ijah, ya Allah." 


Liliana yang selama ini selalu lupa akan Tuhan, kini merasa sangat butuh pertolongan-Nya. Berkali-kali mulutnya mengucap zikir yang dapat ia ingat. Akhirnya, ia menguatkan tekad untuk melewati jalan setapak itu.


Rasa takut akan hantu didominasi oleh takut pada manusia-manusia ibl*s seperti David. 


Musim kemarau satu bulan belakangan membuat daun-daun pokok karet berguguran. Cahaya bulan yang nyaris sempurna membuat jalan Liliana lebih mudah terlihat. Namun, ia harus berjalan dengan hati-hati. Akar-akar pohon yang melintang bisa membuatnya terjerembab. 


Buku kecil, benda satu-satunya yang ia bawa dari rumah, didekapnya erat dengan tangan. Buku kecil itu adalah bukti semata wayang untuk ia bawa ke kantor polisi secepatnya.


"Mak Ijah!" Sebuah cahaya senter di depan sana membuat Liliana seketika menyerukan nama Mak Ijah. Namun, cahaya itu ternyata tidak berasal dari satu lampu penerang, melainkan dua senter. Liliana berhenti melangkah ketika kemudian terdengar sayup dua pria berbicara.


Perempuan itu berbalik memutar arah. Namun, satu cahaya baru saja berkelebat di mulut jalan. Rasa takutnya membuat ia semakin yakin jika pemilik senter adalah kelompok dari orang suruhan David.


"Bos, saharusnya memberikan lokasi yang jelas. Lihat, di jalan ini kita tidak menemukannya!"


Liliana sedikit lega mendengar suara itu. Artinya Mak Ijah selamat. Namun, orang-orang jahat tersebut semakin dekat. Kali ini, justru keselamatan dirinya lah yang terancam. 


Ia berpikir untuk sembunyi di antara pohon-pohon karet, tetapi sebuah tangan tiba-tiba menariknya masuk ke dalam semak.


"Bu Liliana, sstt ...."


"Mak Ijah?" 


"Iya, ini saya."


Mereka mengendap-endap, lalu bersembunyi di balik pakis-pakis kebun yang setinggi orang dewasa.


"Buku, buku Lusi!" Liliana kalut ketika buku kecil yang dibawanya tidak lagi ada di tangannya. 


Sontak Mak Ijah memegang lengan Liliana. Ia menggeleng dan berbisik, "Mereka semakin dekat."


"Bagaimana, Karman?"


"Tidak ada. Aku tidak menemukannya."


"Kita apes sekali sekarang! Bos barusan menelepon jika kita punya tugas tambahan."


"Apa?"


"Istrinya kabur. Dia bernilai dua kali lipat dari Mak Ijah!"


"Ha ha."


"Jangan senang dulu. Satu saja kita belum berhasil!"


"Kalau gagal, habis kita sama Bos!"


"Apa perlu kita datangi rumah Mak Ijah?"


Liliana terhenyak mendengar usul salah satu dari orang tersebut.


"Ide bagus. Tapi, tengah malam. Kita bakar rumahnya."


"Kalau ketahuan, kita m*ti dihakimi warga!"


"Ya ampun, Suli ... Suli. Dasar tidak punya ot*k! Makanya kita harus menyusun rencana agar tidak ketahuan!"


Tawa kecil terdengar dari salah satu pria itu.


"Apa ini?"


"Buku, g*blok!"


"Katakan aku g*blok sekali lagi, kur*bek mulutmu!"


"Berhenti bertengkar kalian!" 


Salah satu pria itu memungut buku kecil yang tergeletak di tanah. Ia membukanya, lalu tersenyum ketika melihat foto di 


"Buku apa, Deno?" tanya Suli, penasaran.


"Sepertinya aku tahu di mana mangsa kita bersembunyi ...." Deno menyeringai. Cahaya senternya mengedar, lalu berhenti pada satu titik di mana pucuk-pucuk pakis terlihat bergoyang pelan.


Pria yang pernah masuk bui dua kali itu mengeluarkan pisau lipat dari sakunya, lalu memerintah, "Berpencar. Karman, ke kanan. Suli, kiri!"


Bersambung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nafsu birahi dengan mertua

Anak kandung

Cerita sex dengan mertua