Part 4 Lusi malang yang Ternoda
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
LUSI, SI MALANG YANG TERNODA 4
Deno tertawa jemawa. Matanya siaga, melangkah hingga mendekat pada semak yang sebelumnya bergerak.
"Mau lari ke mana, hah?"
Sepersekian detik berikutnya, pria itu melompat dan membabibuta mengayunkan pisau kecilnya.
Kegaduhan pun tak terelakkan. Ringis kesakitan terdengar menyayat.
"Deno!" Karman memekik, berusaha melerai Deno yang seperti k*setanan pada orang di depannya. D*rah segar menyelimuti pisau di tangan Deno. Anyir menusuk-nusuk hidung.
"Kau gila!"
"Deno!"
Karman yang berusaha melerai juga terkena sayatan di lengan, meski tidak terlampau parah. Hingga akhirnya, dia berhasil menghentikan Deno. Keduanya tersungkur ke belakang setelah Karman menarik Deno yang kalap.
"Deno, sadar! Yang kau bun*h Suli! Dia Suli!"
Mata Deno membulat. Napasnya masih tersengal. Ia menatap Karman yang meringis kesakitan. Tak mungkin Deno percaya. Dia tak tidak segil* itu sehingga harus menghabisi kawan sendiri.
"Kau jangan bercanda!"
"Kau sudah tak waras!" Karman mendengkus, bangkit dan segera meraih senter yang sebelumnya terlempar di dalam semak tidak jauh dari dirinya.
Lekas pria itu melihat kondisi Suli yang begitu memprihatinkan. Suli tergeletak tak berdaya. Suara lemahnya mengaduh sakit. Pria malang itu merintih.
"Suli?" Karman meringis.
Suli mendengar, tapi tidak sanggup menjawab. Ia berjibaku dengan sakit yang teramat sangat.
Deno juga bangkit. Ternyata benar. Yang tadi dijadikan bulan-bulanan olehnya adalah Suli, temannya sendiri.
"Ke-kenapa ... bisa?"
Mata Suli terpejam. Napasnya sudah tersendat-sendat. Tubuhnya menggeliat lemah.
"Bawa ... ayo bawa ke rumah sakit, Karman!"
"Mustahil!" Karman memekik. Jarak puskesmas Ambawang terlalu jauh. Butuh setidaknya dua jam dengan kondisi jalan desa yang memprihatinkan.
Betapa kesalnya Karman pada Deno. Padahal, sebelumnya dia sudah berteriak jika yang berada di hadapan Deno adalah Suli, bukan Mak Ijah ataupun Liliana. Tapi, Deno tak mengindahkan. Pria itu bak kerasukan setan dan menghunjamkam pisaunya pada tubuh Suli tanpa ampun.
Deno disungkupi sesal luar biasa. Pria itu beringsut mundur. Bermacam tanya tumbuh di kepalanya. Kenapa bisa? Lalu, kenapa dia tidak menyadari itu sejak awal?
Sementara itu, Liliana dan Mak Ijah terus menyusuri jalan tikus di antara pohon-pohon karet yang menjulang.
Pikiran Liliana mengambang. Ia sempat menyaksikan kericuhan yang terjadi oleh Deno. Wanita itu merasa mual, bahkan nyaris muntah meski pembacokan Deno pada temannya tidak begitu jelas terlihat.
"Bu Liliana, istirahat saja dulu kalau capek," kata Mak Ijah.
"Saya masih kuat berjalan. Ke mana kita saat ini?"
"Ke rumah saya."
"Mereka pasti akan menyusul kita ke rumah Mak Ijah."
Mak Ijah terdiam. Sepertinya, wanita baya itu sedang memikirkan sesuatu.
"Berdoa saja semoga semua baik-baik saja."
"Semoga."
Tidak ada suara lagi, selain deru napas mereka dan bunyi daun-daun kering yang terinjak.
Kalau saja bukan karena ide Mak Ijah, entah seperti nasib mereka. Mak Ijah melemparkan dahan kering lapuk pada semak-semak pakis, sehingga para penjahat itu mengira jika Liliana dan Mak Ijah berada di balik pakis-pakis tinggi tersebut. Sementara, Mak Ijah dan Liliana bersembunyi di balik pohon besar.
Ketika keributan itu terjadi, kesempatan mereka untuk melarikan diri.
Liliana masih tidak habis pikir kenapa Deno bisa tidak sadar jika yang dihajarnya adalah temannnya sendiri. Sungguh di luar nalar. Sekelebat muncul anggapan jika Mak Ijah memiliki ilmu yang bisa membuat lawannya terkelabuhi. Atau ... mungkinkah ada campur tangan arwah Lusi?
"Di depan sana. Kita sudah hampir sampai, Bu."
Suara Mak Ijah membuyarkan lamunan Liliana. Lampu penerang yang sedikit redup terlihat. Mereka tiba di belakang rumah Mak Ijah.
Mak Ijah mendorong pintu belakang yang terbuat dari papan. Rumah sederhana sepi. Hanya ada tiga lampu, di teras, dapur, dan ruang tengah.
"Mak Ijah tinggal sendiri?" Liliana penasaran. Ia duduk bersandar pada dinding dapur. Sejak satu tahun lalu ia ikut David ke desa ini, ia tidak pernah masuk ke rumah Mak Ijah. Hanya beberapa kali lewat.
"Saya tinggal dengan cucu. Kuliah di kota, dua minggu sekali baru pulang."
Liliana mengangguk-angguk. Mak Ijah menuang air dari ceret di atas kompor ke dalam gelas yang dipegangnya.
"Namanya Arman, ibunya kerja di luar negeri," lanjut Mai Ijah. "Kamu pasti haus."
Liliana mengambil air di tangan Mak Ijah. Ia memang sangat haus. Diminumnya air itu hingga tandas.
"Saya tidak punya makanan. Kalau lapar, biar saya masak dulu."
"Tidak, tidak. Saya tidak lapar, Mak," tolak Liliana. Tidak ingin membuat repot Mak Ijah. Wanita baya itu sudah sangat membantunya, bahkan sebabnya pula Mak Ijah terseret ke dalam masalah yang sangat besar ini.
"Kamu akan tinggal di sini sementara waktu."
"Mereka pasti akan mencari saya. Mencari kita, Mak."
"Jangan khawatir. Saya akan minta tetangga sekitar untuk berjaga."
Di sekitar rumah Mak Ijah ada lima rumah yang jaraknya cukup dekat.
"Mungkin sebaiknya saya pergi besok pagi-pagi sekali."
Mak Ijah menghela napas.
"Kamu akan tinggalkan Lusi?"
Pertanyaan Mak Ijah membuat Liliana sedih.
"Saya akan lapor polisi, Mak. Para bedebah itu harus ditangkap dan membusuk di penjara." Emosi Liliana tampak berkobar di matanya yang perlahan berkaca-kaca.
"Hanya dipenjara?" Mak Ijah mengangkat alis. "Kamu merasa cukup hanya melihat mereka dipenjara?"
Liliana menelan ludah. Mak Ijah benar, perbuatan mereka sungguh di luar batas. Mereka sangat kejam, terlebih David, lelaki yang saat ini masih berstatus suaminya.
"Polisi pasti akan membongkar makam Lusi."
"Tidak masalah."
"Tidak kasihan kamu sama Lusi?"
"Justru saya kasihan jika para penjahat itu tidak mendapat hukuman yang berat."
"Hukum negeri ini tidak masuk akal, Liana!"
Ucapan Mak Ijah terdengar ketus dan penuh emosi. Liliana terhenyak, apalagi mendengar Mak Ijah memanggil namanya untuk pertama kali.
"Apa yang pantas mereka terima selain kematian?" lanjut Mak Ijah.
Mata Liliana melebar. "Ba-bagaimana caranya?"
Bersambung
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar