Part 5 Lusi malang yang Ternoda
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
LUSI, SI MALANG YANG TERNODA 5
Kentongan dari pos ronda terdengar nyaring. Mendengar itu, para warga berdatangan dengan tergesa. Bahkan yang tengah menyadap karet dan berada di ladang segera meninggalkan pekerjaannya.
Mereka sudah hafal, jika ada kentongan berbunyi dengan cepat dan nyaring, itu pertanda sedang terjadi kekacauan atau musibah.
"Karman, ada apa?"
Karman menghentikan pukulannya pada kentongan yang terbuat dari bambu tersebut.
"Mayat ... ada mayat di kebun karet!"
"Mayat? Mayat siapa? Jangan bercanda!"
"Saya tidak tahu mayat siapa. Saat saya mau berangkat menyadap getah, tak sengaja melihat jasad penuh darah di kebun karet Pak Kades," ucap Karman wajah takut.
Riuh rendah suata warga terdengar. Mereka saling pandang. Rasa ingin tahu menggebu.
"Heh, Karman, tumben sekali kau menyadap karet. Biasanya juga pagi-pagi sudah nongkrong di warung Wak Asih," celetuk salah satu warga.
"Betul itu."
"Betul!"
Mak Ijah dan Liliana turut bergabung.
"Jangan bicara seperti itu kau, Jono. Gini-gini aku masih punya rasa kasihan sama istri. Tak mungkin kubiarkan dia menoreh getah sendirian terus."
"Huuu!"
Seorang pria berwibawa datang dan menyibak kerumunan.
"Apa yang terjadi?"
"Pak Kades, saya melihat mayat di kebun Bapak."
Pak Kades menelan ludah. Dahinya mengernyit. "Mayat?"
"Iya."
"Kamu tahu mayat siapa?"
"Saya tidak tau, Pak. Saya tidak berani mendekat."
"Ayo kita lihat ke sana untuk memastikan."
Para warga yang semakin ramai, berbondong-bondong mengkuti Karman yang menjadi penunjuk jalan.
"Innalillaah."
Orang-orang riuh. Meringis saat melihat tubuh Suli penuh darah dan dikerubungi semut.
"Pak Jufri, ini pembunuhan. Kita harus lapor polisi!" seru salah seorang warga.
"Betul. Desa kita sudah tidak aman!"
"Tenang, tenang!" Pak Jufri mengangkat tangan. "Kita tidak perlu melaporkan kasus ini ke polisi. Saya berjanji kejadian seperti ini tidak akan terulang."
"Bagaimana kalau terulang lagi?"
"Ya, bagaimana?" timpal yang lain.
"Saya akan mengundurkan diri dari jabatan saya sebagai kepala desa!" Lelaki yang masa jabatannya hampir habis itu berkata mantap. Pria itu sudah menyiapkan segalanya untuk kembali mencalonkan diri sebagai lurah. Dan salah satu kampanye yang santer ia serukan adalah keamanan.
"Lalu, bagaimana dengan pelakunya?"
"Pelakunya akan segera ditemukan secepatnya. Dia akan mendapat hukuman setimpal!"
Para warga tidak lagi menimpali. Mereka percaya ucapan Pak Jufri.
"Sekarang kita urus jasad Suli dengan layak," ucap Pak Jufri.
Atas perintah Pak Kades, jenazah Suli dibawa ke rumahnya untuk diurus, sebelum akhirnya dimakamkan.
Kematian Suli jelas membuat seisi desa gempar. Padahal baru saja Lusi ditemukan gantung diri, kini ada orang yang mati lagi dengan sengaja dibunuh.
"Semakin kacau saja desa kita."
Liliana dan Mak Ijah yang tengah berada di warung sembako untuk berbelanja kebutuhan dapur, mendengar lamat-lamat percakapan di warung sebelah.
"Betul. Desa kita sudah tidak aman."
"Kita lihat saja. Arwah Lusi bakal gentayangan, begitu juga dengan arwah si Suli!"
Mak Ijah menyentuh lengan Liliana. Wanita itu tersenyum, memberikan kekuatan pada Liliana agar tidak memikirkan apa pun yang diucapkan warga.
Liliana membalas senyum Mak Ijah, lalu melanjutkan mengambil mie instan.
***
Sehabis makan siang, Mak Ijah pamit pada Liliana. Ada warga yang hendak melahirkan dan butuh bantuannya.
"Kamu diam saja di rumah. Jangan ke mana-mana kalau tidak ada perlu," pesan Mak Ijah.
"Iya, Mak."
"Tenang saja. Kamu aman di sini."
Liliana tersenyum. Malam tadi, ia menyaksikan sendiri jika beberapa pria tidak tidur hingga larut di rumah sebelah. Mereka meredam kantuk dengan kopi dan bermain catur.
Mak Ijah mengambil peralatannya memasukkan ke dalam kantong kain berwarna hitam.
"Saya tidak tahu pulang jam berapa. Kalau sampai gelap saya tidak pulang, tutup pintu dan jendela. Kunci dengan rapat."
Tidak ada balasan lain dari Liliana selain anggukan.
Mak Ijah pergi.
Liliana menatap perempuan itu dari balik kaca hingga menghilang dari pandangan. Sejujurnya, ia bosan dengan situasi yang tengah dihadapinya saat ini. Ia tidak bisa hanya berdiam diri begitu saja. Wanita itu sudah bertekad untuk melapor polisi.
Benar ucapan Mak Ijah bahwa mereka pantas mendapatkan balasan lebih daripada hanya dipenjara. Apalagi dengan hukum di negeri ini yang kacau balau. Namun, apa yang bisa diperbuat oleh Liliana maupun Mak Ijah untuk membalas dendam?
Liliana tidak memiliki ide apa pun selain melaporkannya ke pihak berwajib. Jenazah Lusi harus diotopsi, sebelum hancur. Pemerkosa dan pembunuh Lusi harus ditangkap dan diadili.
Ia pun keluar setelah bersiap. Ke kota membutuhkan waktu yang lumayan panjang. Ia akan menyewa ojek sepeda motor untuk sampai ke tempat tujuan.
"Siapa itu?" Liliana terkejut karena seperti melihat orang di balik kaca sedang mengintipnya.
Ia menggeleng dan mengenyahkan pikiran itu. Mungkin hanya halusinasi, pikirnya. Ia harus bergegas.
Di kantor polisi, Liliana melaporkan dengan detail semua yang terjadi pada Lusi.
Pihak kepolisian meragukan laporan Liliana karena tidak disertakan bukti. Namun, setelah perempuan itu berkali-kali memohon, akhirnya polisi berkenan dan akan segera datang sore nanti dengan membawa tim.
Seperti janji petugas kepolisian, mereka akhirnya datang.
"Ibu Liliana, mari antar kami ke makam yang dimaksud."
"Iya, Pak. Sebentar saya masuk dulu." Liliana bergegas masuk untuk mengambil jaket.
Mak Ijah bilang, jaket hijau tua itu milik Arman, cucunya. Liliana boleh memakainya jika butuh. Namun, saat menarik jaket tersebut, sebuah plastik hitam berisi benda, jatuh.
Penasaran, Liliana membuka bungkusan itu.
"Siapa wanita ini?" Liliana bergumam saat melihat sebuah foto dalam kresek hitam itu. Wanita cantik dengan rambut tergerai, seumuran Lusi.
Benda kotak dari kuningan juga membuatnya penasaran, tapi Liliana tersadar jika membukanya ia tidak berhak. Apalagi dirinya saat ini sedang terburu-buru.
Ia pun mengembalikan benda itu, menggantungnya pada paku di dinding lemari.
Kehadiran polisi ke desa menimbulkan rasa ingin tahu warga. Terlebih saat melihat Liliana bersama para petugas tersebut.
"Di sini, Pak." Liliana menunjukkan makam Lusi yang masih basah.
"Baik. Kami akan melakukan pembongkaran makam sesuai dengan prosedur. Mohon untuk tidak melewati garis polisi!"
Riuh rendah suara para warga yang melihat, terdengar. Mereka akhirnya tahu kenapa ada polisi di desa.
"Kenapa mau dibongkar?" tanya seorang warga pada temannya.
"Mungkin ada yang tidak beres dengan kematian Lusi."
"Dia mati gantung diri. Tentu ada yang tidak beres."
"Atau jangan-jangan ...."
"Jangan-jangan apa, Dut?"
"Kau tau Bu Liliana menginap di rumah Mak Ijah?"
"Ah, yang benar?"
"Itu yang orang-orang bicarakan tadi pagi. Ini pasti ada sangkut-pautnya sama kematian Lusi. Yang tidak beres pasti ada di dalam rumah Bu Liliana."
"Itu masuk akal."
"Apa pun itu, kita tak berhak ikut campur."
"Kasihan Lusi. Harusnya dia mendapat kiriman doa dari warga sini. Sayangnya, orang tuanya tidak mengadakan tahlilan."
Suara-suara itu, sebagian sampai ke telinga Liliana. Namun, ia mencoba untuk tidak terlarut dalam emosi. Meski kesedihan yang mendalam tak sanggup ia redam. Perempuan itu menangis, teringat Lusi yang malang.
"Astaghfirullah!"
Dua penggali kubur itu sontak naik dari liang lahat dengan wajah takut.
"Ada apa?" Petugas polisi yang memimpin penyelidikan, bertanya.
"Pak, coba lihat!"
Pria itu mendekat, hingga kemudian terkejut.
"Bu Liliana, coba ke sini."
Dengan jantung berdetak kencang, Liliana berjalan mendekati makam yang tergali.
"Coba jelaskan. Ibu bilang ini hari kedua anak Ibu dimakamkan. Tapi, lihat. Mayat ini sudah lama. Sudah tinggal kerangka!"
Liliana membekap mulut saat melihat mayat di bawah sana hanya tersisa kerangkanya saja. Bahkan, kain kafannya juga terlihat lusuh dan beberapa bagian koyak.
"Ibu mungkin salah makam?"
Liliana menjongkok dan mengambil batu nisan di dekatnya. Tidak, ia tidak salah. Tidak mungkin. Ini tidak masuk akal.
"Ini benar makam anak saya, Pak. Lihat ini." Liliana menunjuk tulisan pada batu nisan Lusi. Kemudian, pandangannya yang memburam oleh rembesan air mata mengedar. Entah siapa yang dicarinya, hingga ia melihat Mak Ijah di antara para warga. Wanita sepuh itu menatap Liliana dengan tajam.
Bersambung
Baca bab2 berikutnya di kbm app.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar