Part 6 Lusi yang Ternoda
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
LUSI, SI MALANG YANG TERNODA 6
"Kamu tidak mendengarkan ucapan saya!"
Ucapan sengit Mak Ijah tidak direspon oleh Liliana. Perempuan itu terus saja menangis sejak tadi. Bagaimana bisa Lusi yang dua hari dikubur, jasadnya sudah tinggal kerangka?
Pak Kades juga datang pada peristiwa menggemparkan tersebut.
Setelah berbicara dengan orang nomor satu di desa, petugas kepolisian datang kepada Liliana.
"Maaf, Bu, kami tidak bisa meneruskan penyelidikan ini."
Tentu saja Liliana terkesiap mendengar penuturan polisi itu.
"Kenapa bisa begitu, Pak?"
"Ibu lihat sendiri. Bagaimana kami bisa melakukan otopsi sementera jenazah sudah tinggal belulang? Ada-ada saja!"
"Pak, ini bentuk kejahatan lain. Pasti ada yang menukar jenazah anak saya."
"Ibu ada bukti?"
"Tidak masuk akal. Bagaimana mungkin jenazah anak saya yang baru dikubur dua hari sudah tinggal kerangka seperti itu?"
"Saya tanya, Ibu ada bukti kalau jenazah anak Ibu ditukar?"
"Semua orang pasti berpikir sama dengan saya, Pak."
"Tapi, saya tidak. Di alam kubur, semua bisa saja terjadi. Termasuk yang terjadi pada anak Ibu."
"Semua orang tahu kalau anak saya meninggal dua hari yang lalu. Dan ini kuburannya!" Liliana begitu emosional. Amarahnya menguap.
"Kami sudah membongkar makam yang Ibu maksud. Dan kita semua sudah melihat sendiri isi makam ini!"
"Tolong selidiki kasus ini, Pak." Liliana menjatuhkan diri. Memohon pada polisi tersebut agar Lusi mendapat keadilan.
"Maaf, Bu. Banyak pekerjaan yang harus kami kerjakan." Polisi itu tidak peduli. "Kembalikan makam itu seperti sediakala," perintahnya kepada para anak buahnya.
"Paaak!" teriak Liliana, tapi diabaikan.
"Sudahlah." Mak Ijah menyentuh lengan Liliana.
Perih hatinya. Besar harapan Liliana untuk mendapat keadilan. Namun nyatanya, yang dituainya hanyalah kecewa yang teramat menyesakkan.
"Minum ini," kata Mak Ijah, memburaikan lamunan Liliana.
Liliana menatap gelas di tangan Mak Ijah, lalu meraih dan meneguk isinya.
Mak Ijah duduk di depan Liliana. Pandangannya kosong keluar jendela, pikirannya jauh berkelana.
"Mak juga berpikir sama dengan saya, kan, Mak?" Suara Liliana parau. "Tidak mungkin jenazah Lusi bisa seperti itu. Saya yakin ada yang menukarnya."
Mak Ijah menarik pandangan. Menatap wajah sendu wanita di hadapannya.
"Mungkin."
Jantung Liliana berdentam.
"Tapi, siapa dan untuk apa?"
"Saya juga tidak tahu."
Air mata Liliana meleleh melewati pipinya yang putih.
"Tapi kenapa, Mak?"
"Wanita yang meninggal dalam keadaan hamil dipercaya memiliki keistimewaan sendiri."
Mata Liliana melebar. Beragam tanya berkelebat di kepalanya.
"Konon, siapa yang berani dan berhasil mencuri jari manis bayi yang lahir di alam kubur, dia bisa menjadikan iblis sebagai pesuruhnya. Dia akan mempunyai kesaktian."
"La-lahir di kubur?"
"Iya. Jari manis bayi itu harus diambil dengan gigi mereka yang berani mencurinya."
Liliana pernah mendengar cerita bayi yang lahir di alam kubur. Ia juga pernah membaca jika kejadian itu di dalam ilmu medis disebut coffin birth, bayi yang keluar dari rahim ibunya setelah dipetikan atau dikuburkan. Tapi, itu membutuhkan waktu berhari-hari.
"Tapi, Mak. Lusi baru dikubur dua hari. Tidak mungkin bayinya keluar secepat itu."
"Itu mungkin menjadi jawaban kenapa jenazah Lusi ditukar."
"Ma-maksud Mak Ijah?"
"Tentu banyak orang yang menginginkan jari manis dari bayi Lusi. Sebelum ada yang mengambilnya, seseorang mencuri jenazah Lusi lebih dulu."
Penjelasan Mak Ijah membuat Liliana tercengang. Masuk akal. Tapi, kenapa ada manusia seperti itu?
"Mak, tolong lakukan sesuatu," ucap Liliana pelan. Tatapannya kosong. Api dendam bergejolak di dadanya.
Mak Ijah menatap Liliana. Wanita sepuh itu menghela napas dalam. Ia sudah lama ingin mendengar kalimat itu dari Liliana.
Mak Ijah tidak bersuara. Perempuan berambut nyaris seluruhnya putih itu bangkit dan berjalan ke arah jendela. Hari sudah meremang. Sebentar lagi gelap.
Baru saja Mak Ijah menarik daun jendela, tiba-tiba tangannya berhenti. Sebuah kupu-kupu hitam masuk dan mengitari ruangan dapur sempit Mak Ijah.
"Ada apa, Mak?"
"Akan ada tamu."
"Siapa?" Liliana tidak menyangka jika Mak Ijah masih memercayai mitos turun-temurun tersebut, kalau ada kupu-kupu masuk rumah akan ada orang bertandang.
"Kita lihat saja."
Mak Ijah menutup jendela, kemudian pintu.
"Itu baju ganti untukmu." Imak Ijah menunjuk sebuah gamis yang terlipat di ujung tembok.
"Punya siapa ini, Mak?" Liliana mengambil gamis yang warnanya sedikit pudar itu, memindainya.
"Kalsum."
"Kalsum?"
"Adiknya Arman."
"Arman punya adik? Di mana?"
"Kaslum ... meninggal setelah seminggu menjadi gila."
Mata Liliana membola. Telapak tangannya terbekap pada mulutnya yang menganga seketika.
"Maaf, Mak ...,' sesal Liliana.
"Kalsum anak yang cantik dan baik. Dia ... dia menjadi gila setelah diperkosa oleh ...." Suara Mak Ijah menggantung. Matanya basah oleh air mata. Betapa pedih hatinya saat memutar ulang peristiwa menyakitkan itu. Mak Ijah terisak, hingga sejurus kemudian terdengar pintu rumahnya diketuk dengan keras.
Liliana menatap pintu yang tertutup itu. Firasat buruk hadir seketika. Jadi, ini tamu yang tadi diatakan Mak Ijah?
Perempuan itu sudah bangkit untuk membuka pintu, tapi Mak Ijah berseru pelan, "Jangan!"
"Mak Ijah, keluar kau!"
Suara pria tedengar nyaring di depan sana. Pendar cahaya senter terlihat dari celah-celah dinding papan rumah.
"Mak ada apa ini?" tanya Liliana, takut.
"Tenang. Biar saya yang membuka pintu."
"Tapi, Mak ...."
"Mak Ijah! Kalau dalam hitungan ketiga kau tidak keluar, akan kami bakar rumahmu ini!"
"Mak Ijah, keluar!"
"Mak Ijah!"
Suara di luar sana semakin ramai.
Mak Ijah melangkah pelan, tertatih menggunakan tongkatnya. Sementara, Liliana merasa sangat takut. Takut akan kejahatan yang mungkin akan dilakukan orang-orang itu pada Mak Ijah.
Pintu terbuka, menampilkan wajah-wajah penuh amarah. Obor-obor dan senter menerangi halaman Mak Ijah yang sudah gelap.
Pak Kades juga hadir, menjadi pemimpin belasan warga di belakangnya.
Liliana tercengang saat melihat David turut hadir bersama orang-orang itu. Pria itu menggunakan kurk. Ia tersenyum sengit saat beradu pandang dengan Liliana.
"Ada apa ini, Pak Kades?"
Pak Kades maju.
"Ke mana Mak Ijah malam sebelum Suli ditemukan meninggal?" Pak Kades menginterogasi. Suaranya tenang, tetapi mengintimidasi.
Rasa takut di hati Liliana semakin merajalela. Ia paham ke mana arah pertanyaan Pak Kades.
"Saya ke rumah Ibu Liliana."
"Jadi, benar dugaan saya."
"Maksud Pak Kades apa?" Liliana menyambar ucapan Pak Kades. Mata wanita itu mencelang.
"Ibu Liliana juga tidak ada di rumah malam itu. Dan saya membawa bukti." Pak Kades mengeluarkan buku kecil milik Lusi dari dalam sakunya. Sontak saja Lililana membelalak.
"Itu punya anak saya!" Liliana mencoba meraih buku itu, tapi Pak Kades mengangkatnya.
"Buku ini ditemukan tidak jauh dari mayat Suli. Kalian tidak bisa mengelak lagi. Kalian akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas pembunuhan yang kalian lakukan."
"Demi Allah. Bukan saya atau Mak Ijah!" Liliana menggeleng. Pandangannya memburam oleh air mata. Siapa yang sudah tega memfitnah dirinya dan Mak Ijah? "Dia ... dia pelakunya!" Liliana menunjuk pria di dekat David.
Deno hanya menyeringai.
"Bukti sudah berbicara, Ibu Liliana," kata Pak Kades. "Ringkus mereka!" katanya, memerintah empat pria untuk meringkus Mak Ijah dan Liliana.
"Bakar mereka!" Warga berteriak.
"Raj@m mereka!"
"Bakar!"
"Raj@m!"
"Gantung mat!!"
"P3nggal!"
Liliana memberontak dan berteriak. Namun, kekuatannya bukan apa-apa dibanding dua pria yang memegangnya.
Tidak seperti Liliana, Mak Ijah tampak tenang. Tidak ada pemberontakan darinya.
"Lepaskan saya! Saya dan Mak Ijah tidak bersalah!" pekik Liliana. Tapi, percuma. Tubuhnya tetap diseret keluar dari rumah Mak Ijah.
Liliana terus meronta, meminta untuk dilepaskan. Namun, mereka sudah dikuasai fitnah kejam. Mata mereka sudah tertutup oleh lembar-lembar rupiah.
Tangis pilu Liliana tak membuat mereka tergugah. Ia terus diseret paksa. Hingga saat berada di halaman, Liliana melihat seorang gadis berdiri di dalam rumah Mak Ijah, tidak jauh dari pintu yang terbuka.
Bibir Liliana bergetar. "Lu-Lusi?"
Bersambung.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar