Part 7 Lusi yang Ternoda
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
LUSI, SI MALANG YANG TERNODA 7
"Lu-Lusi?"
Pandangan Liliana masih tertuju pada sosok Lusi di rumah Mak Ijah ketika orang-orang tak bernurani itu menyeret keduanya.
"Lusi!"
"Lepaskan!"
"Lepaskan saya!" Liliana memberontak.
Mendengar nama Lusi disebut oleh Liliana, David mengangkat tangan. Meminta dua pria-pria yang memegang istrinya dan Mak Ijah untuk menjeda.
"Berhenti," katanya.
David mengarahkan pandangan ke rumah Mak Ijah, ke arah di mana Liliana memandang. Pria itu penasaran, apakah Liliana baru saja melihat arwah Lusi?
"Heh, di mana Lusi?" Deno menyentak. Tidak melihat siapa pun di sana. Begitu juga dengan David.
David tidak bersuara.
"Lusi," lirih Liliana.
"Oh, aku tau, kau ingin cepat-cepat menyusul anakmu itu, ya?" Deno terbahak.
"Diam kau, Deno!" David berang. Seketika Deno berhenti tertawa. David masih sedikit khawatir jika Liliana benar-benar melihat arwah Lusi.
"Kalian akan segera menerima balasan," ucap Mak Ijah dengan tatapan kosong.
"Heh, Nenek Tua! Jangan banyak bicara. Sebaiknya kau berdoa saja sebelum dihukum m4ti!" hardik Deno.
Pak Kades dan David saling pandang. David menggerakkan sedikit kepalanya.
"Jalan!" Pak Kades memerintah.
Orang-orang suruhannya kembali melangkah.
"Lepaskan kami!" Liliana kembali memberontak. Tatapannya terpatri pada sosok Lusi yang semakin samar terlihat.
"Pak David, kita apakan mereka?" bisik Pak Kades.
"Hab1si mereka." Tanpa pikir panjang, David menyahut. Keputusannya sudah bulat. Membiarkan Liliana tetap hidup akan menjadi bumerang baginya.
"Pak David serius?"
David menatap Pak Kades dengan tajam. Pria yang selalu terlihat berwibawa itu kini bagaikan kerbau dicucuk hidungnya. Ia tetap akan menurut. Uang suap yang diterimanya tidak bisa membuatnya berbuat banyak selain mengikuti alur yang David kehendaki.
"Kita sudah sepakat, Jufri!" Suara David tertahan.
"Ba-baik, Pak David. Kita lakukan seperti kesepakatan awal." Pak Kades tergagap. Di hatinya bersarang rasa takut setelah mendengar Liliana yang katanya melihat Lusi. Juga sebab ucapan Mak Ijah bahwa mereka akan mendapat balasan.
"Pak, kita bawa ke mana mereka?" Deno bertanya.
"Halaman kantor desa!"
"Siap, Pak!"
"Panggil semua warga agar menyaksikan!"
Dua kentongan yang dibawa oleh warga dipukul sekuat tenaga. Suara gaduh berpacu dengan suruan-seruan warga yang mengarak Liliana dan Mak Ijah.
Tangis Liliana tidak lagi terdengar. Ia menunduk, pasrah dengan takdir yang akan dihadapinya. Namun, hatinya diselimuti dendam. Perempuan itu mengutuk orang-orang yang memfitnah dirinya dan Mak Ijah.
Tangan Liliana dan Mak Ijah diikat ke belakang. Kaki-kaki mereka juga tak luput dari belitan tali yang sangat kencang. Mereka didudukkan dengan kasar. Beradu punggung.
Para warga mengelilingi mereka.
Pak Kades maju, lalu mengangkat tangan kanannya. Seketika orang-orang terdiam.
"Sebelumnya, desa kita adalah desa yang aman dan damai." Pak Kades memulai suara.
"Mak ... maafkan saya ...." Lirih, Liliana berucap. Ia sungguh merasa bersalah pada Mak Ijah. Akibat dirinya, Mak Ijah malah terseret ke dalam masalah besar itu. Isaknya terdengar pilu.
Mak Ijah bungkam.
"Tapi, mereka berdua telah membuat kesalahan yang besar. Mereka dengan sengaja menghabisi Suli. Maka, saya ingin kalian semua menyaksikan bahwa saya akan memberikan hukuman yang setimpal agar tidak lagi terulang kejadian serupa!"
"Betul!"
"Betul!"
"Hukuman apa yang setimpal bagi orang yang telah melenyapkan nyawa orang lain?"
"Hukum m4ti!"
"B4kar mereka!"
Suara-suara itu terdengar lantang. Namun, tidak sedikit pula dari warga yang merasa kasihan kepada Mak Ijah dan Liliana. Mereka kurang setuju dengan putusan hukum yang dibuat Pak Kades.
Liliana menunduk. Rasa takut menjalari tubuhnya.
"Laa ilaaha illallaah ...." Wanita itu melirihkan kalimat tahlil. Liliana memang perempuan yang tidak taat beragama, tetapi sesekali ia melihat ceramah agama yang tidak sengaja lewat di beranda sosial medianya. Bahwa, jika seseorang meninggal yang ucapan terakhirnya membaca kalimat itu, ia akan dijanjikan surga.
"Baik. Mereka akan ... dihukum mati malam ini juga!" seru Pak Kades.
"Ya!"
"Malam ini juga!"
"Bakar!"
"Bakar!"
Pak Kades memerintahkan bawahannya untuk mengambil bahan bakar minyak di gudang.
Tidak perlu diperintah dua kali, dua pria itu segera melaksanakan tugas yang diterima.
Dengan langkah pincang, David mendekat kepada Liliana. Pria itu menjongkok.
Liana mengangkat wajah. Tatapan benci ia tancapkan pada David di hadapannya. Namun, David justru tersenyum miring.
"Seharusnya kamu mengikuti kata-kataku, Liana," ucap David. "Seharusnya kita masih hidup bahagia. Tapi, lihat sekarang."
Bahu Liliana berguncang. Ia menanap David. Ingin rasanya ia memecahkan kepala pria di depannya.
"Emm ...." David tampak berpikir. "Bagaimana kalau aku beri kesempatan satu kali lagi? Aku akan meminta Pak Kades agar kamu dibiarkan hidup. Biar Mak Ijah saja yang dihukum. Bagaima—"
Cuih!
Kalimat David terpotong oleh ludah yang dilepaskan oleh Liliana.
Pria itu mengusap air ludah yang berada tepat dibawah mata kanannya. Jangan tanya seperti apa geram dan marahnya David saat ini.
Plak!
Tamparan yang diterima Liliana seolah tak terasa. Perempuan itu masih tetap menantang mata David.
"Lebih baik aku mati daripada hidup dengan iblis sepertimu!"
"Dasar j4lang!" umpatan David berbarengan dengan tangannya.
Kali ini, pipi Liliana terasa panas. Namun, tidak sepanas hatinya. Tubuh perempuan itu terjungkal saat David mengayunkan kaki mengenai sisi kiri perutnya.
Perempuan itu meringis kesakitan.
"Hentikan!"
David hanya menatap sekilas Mak Ijah yang meminta David menghentikan aksinya. Pria itu kembali menggunakan kakinya untuk menyakiti wanita yang masih berstatus istrinya tersebut.
"Enyah kau ke nereka!"
Liliana meringkuk.
David seperti kerasukan. Namun, saat akan menginjak Liliana lagi, tubuhnya terdorong hingga jatuh. Pria itu merasakan kakinya seperti patah.
Pak Kades membelalak melihat seseorang menyorobot masuk dan mendorong David hingga terjerembab.
"Nenek!"
"Arman?"
"Nenek tidak apa-apa?"
"Sebaiknya kau pergi. Pergi!"
Arman menggeleng, lalu menatap Liliana yang masih di posisi semula. Pria itu membantu Liliana duduk.
"Siapa kau, Brengsek?" seru David. Pria itu bangkit tertatih, melangkah untuk mendekat. Namun, Arman mengacungkan pisau dapur yang sebelumnya ia bawa dari rumah Mak Ijah, neneknya.
"Mendekat selangkah lagi, aku tidak akan segan-segan menghabisimu!"
Orang-orang Pak Kades yang hendak meringkus Arman juga berhenti.
Arman waspada. Memutar badan.
"Arman, jatuhkan pisaumu!" perintah Pak Kades.
"Pak Jufri, apa salah nenek saya? Tega sekali kau memperlakukan Nenek dengan kejam!"
"Nenekmu telah menghabisi Suli! Dia harus dihukum setimpal!"
"Tidak!" Arman menggeleng. "Tidak mungkin. Aku tidak percaya. Nenek punya peran sama seperti dokter yang membantu wanita melahirkan. Tidak mungkin Nenek membunuh!"
"Kau tidak tau apa-apa, Arman. Sebaiknya kau menyingkir!"
"Heh, kalian, Ibu-Ibu, kenapa hanya diam saja? Berpuluh tahun kalian dibantu oleh Nenek saat melahirkan. Kalian kenal Nenek. Di mana hati kalian?"
Para wanita itu beradu pandang.
"Pak Jufri, tolong lepaskan Nenek," mohon Arman.
"Maaf, Arman."
"Pak—"
Arman tak sanggup meneruskan ucapannya. Ia tersungkur setelah sebuah balok menghantam belakang kepalanya.
"Armaaan!" Mak Ijah memekik.
"Bawa dia ke dalam!" titah Pak Kades kepada orang yang baru saja memukul Arman.
"Bi4dab!" teriak Mak Ijah. "Biadab kalian!"
"Sekarang." Pak Kades menatap Deno yang sedang memegang jerigen besar berisi solar.
"Siap, Pak!"
Deno dan Karman maju. Lantas menyiram Liliana dan Mak Ijah.
"Sekarang kita saksikan kematian para penjahat ini!" seru Deno sambil mengangkat tangan. Namun, para warga tidak seantusias tadi. Ucapan Arman masih melekat di benak mereka.
"Lakukan sekarang, Deno!" perintah Pak Kades.
Deno tertawa, lalu memantik korek api yang dipegangnya. Namun, saat hendak melempar pemantik, api itu justru merambat ke jemarinya.
Pria itu membelalak, begitu juga dengan orang-orang yang menyaksikannya. Ia tergeragap dan segera berusaha meredam api yang dengan cepat membakar tangannya. Namun, usahanya sia-sia.
"To-tolong!"
Bersambung
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar