Cerita sex dengan mertua

Gambar
Cerita Sex Dengan Mertua  Perkenalkan namaku adalah Diki, aku berusia 24 tahun, jujur wajahku tampan ( bukannya sombong ), tak heran kalau banyak wanita yang tergila gila padaku. Aku bekerja di perusahaan asing sebagai management. Kejadian ini berawal pada saat aku hidup berumah tangga, sudah 1 tahun lebih aku hidup berumah tangga, tapi belum juga dikaruniai seorang anak. aku punya seorang isteri yang sangat cantik, setia, sabar dan sikapnya dewasa, dia bekerja sebagai dokter disalah satu rumah sakit negeri diJakarta. Tiap malam jumat aku selalu melakukan hubungan sex dengan isteriku, bahkan bukan hanya hari itu juga tapi di hari ssenin itu sering kulakukan dengan isteriku. Aku punya mertua yang baik, perhatian, dan sayang terhadap menantunya. Mertuaku yang perempuan berumur 41 tahun. Tapi yang aku kagumi dari dia adalah tubuhnya masih singset, langsing, ramping, seksi, dan payudaranya yang lumayan montok, kulitnya pun masih mulus dan putih bersih, maklum dia indo peran...

Part 9. Lusi yang Ternoda

 LUSI, SI MALANG YANG TERNODA 9




"Pa!"


"Papa!"


David tersentak setelah mendapat tepukan di pipinya. Di atasnya, Dias menatapnya dengan heran.


"Papa kenapa?"


Lekas David bangkit duduk. 


Pandangannya mengedar ke sekitar, mencari sosok yang baru saja mencekik dirinya. Namun, makhluk mengerikan itu tidak ada di mana pun. Peluh membasahi wajah dan hampir seluruh tubuhnya. 


"Papa kenapa nyekik leher kayak tadi?" Dias kembali bertanya. 


"Apa maksudmu, Dias?" Mata David melebar, pertanyaan Dias membuatnya bingung. 


"Papa teriak-teriak sambil nyekik leher Papa sendiri. Ada apa?"


David menelan ludah. Ucapan anaknya membuat pria itu berpikir keras. Jelas-jelas tadi yang mencekiknya adalah sosok menyeramkan dengan wajah penuh nanah dan belatung.


"Ada setan. Papa didatangi sosok mengerikan, Dias! Dia yang nyekik Papa!"


Dias mengembuskan napas. 


"Pa, sejak Papa teriak, aku langsung ke sini. Tidak ada setan yang Papa maksud. Papa malah nyekik leher."


"Sumpah, Dias. Papa tidak bohong!"


Wajah David yang pias kembali mengedar. Pria itu bangkit. Kurk yang menjadi alat bantunya berdiri disodorkan oleh Dias.


"Papa cuma berhalusinasi."


"Ck. Susah sekali bicara sama kamu!" David semakin kesal karena Dias masih tidak percaya dengan ucapannya.


Dias menatap sekilas sang papa. Sejujurnya, ia juga merasakan hal aneh saat melihat papanya tidak sadar akan perbuatannya tadi. Nuansa mistis ia rasakan.  Udara terasa semakin dingin, membuat bulu-bulu kuduknya meremang.


Dua lelaki itu berjalan beriringan, menuju sofa ruang keluarga.


"Kalau memang benar Papa didatangi setan, itu ... mungkin ada sangkut-pautnya dengan kematian Lusi," ucap Dias.


David mengarahkan pandangan pada Dias.


"Papa juga berpikir begitu."


"Jadi, kita harus bagaimana?"


"Jalan satu-satunya kita harus pergi dari desa ini."


"Terus usaha Papa yang di sini bagaimana? Sawah, ternak dan lain-lainnya?"


David mengembuskan napas. "Itu gampang."


"Kalau kita pindah, Papa yakin kita tidak akan diteror lagi?"


"Papa yakin."


Dias terdiam. Keraguan mengganjal di hatinya. Kendatipun dia dan papanya pergi dari desa tersebut, ia merasa tidak akan seaman yang dibayangkan. 


"Kamu kenapa?"


"Aku berpikir untuk minta maaf sama Mama dan mengakui kesalahan kita."


"Jangan gila kamu!" sentak David. 


"Itu jalan satu-satunya agar arwah Lusi tidak meneror kita, Pa."


"Papa tidak akan pernah minta maaf sama Liliana!"


"Aku takut, Pa. Percuma saja kalau kita pergi dari sini."


"Kamu laki-laki, Dias. Jangan bersikap seperti anak perempuan. Memalukan!"


Dias tertunduk.


"Papa akan cari cara untuk melawan siapa pun yang berani mengusik kita."


"Saharusnya kita tidak melakukannya," sesal Dias.


Melihat anaknya yang terlihat lemah, David mendengkus. 


"Kita sudah melakukannya. Kita harus berani menghadapi apa pun yang akan terjadi."


"Seharusnya Papa tidak membunuh Lusi." Kalimat penyesalan terus saja keluar dari mulut Dias.


"Dasar anak tidak tau diuntung!" David bangkit dan menarik kerah baju anaknya. "Ini juga demi kebaikan kamu, Dias! Kalau sampai orang-orang tau apa yang sudah kita perbuat, kita akan mati diamuk masa! Kita akan dihinakan oleh mereka!"


David melepaskan cengkeramannya.


Dias semakin menunduk. Ia menyesalkan tekad Lusi yang tidak mau menggugurkan kandungannya. Kalau saja perempuan itu mau, pasti semua tidak akan serumit ini.


Tiba-tiba pintu terdengar diketuk. David dan Dias beradu pandang. 


"Jangan ada yang buka pintu," ucap David. Dadanya berdegam.


"Pak David?"


"Itu suara Pak Kades, Pa."


David menggeleng ragu. Dia tidak akan tertipu untuk kedua kalinya


Ketukan pintu semakin kencang.


"Bos, buka pintunya!"


"Itu Om Karman."


David melangkah menuju kaca samping. Ia menyibak gorden dan melihat siapa yang berada di teras.


Rupanya benar, itu Pak Kades dan Karman. David melanjutkan langkah untuk membuka pintu utama.


"Pak David," sapa Pak Kades.


David hanya mengangguk kecil tanpa ekspresi.


"Kita benar-benar sial malam ini," celetuk Pak Kades saat melangkah masuk.


"Saya akan pergi dari desa ini." David mengutarakan rencananya. "Malam ini juga."


Pak Kades tersenyum meremehkan. "Pak David, kenapa kau jadi pengecut seperti ini?" 


"Tutup mulutmu!"


Pak Kades langsung ciut. Walau pun Pak Kades adalah orang nomor satu di desa, tapi David berkuasa atasnya. 


"Menurut saya, Pak David tidak perlu pergi. Apa yang Pak David takutkan?"


"Dasar! Saya baru saja didatangi makhluk mengerikan!" David mendengkus.


"Hantu?"


"Dia mencoba membunuh saya!"


Pak Kades tertawa kecil. 


"Pak David, tidak ada ceritanya hantu membunuh manusia."


"Terserah kau saja. Intinya, saya dan Dias akan pergi. Keputusan saya sudah bulat."


"Pak David tidak perlu ke mana-mana. Karena saya punya rencana bagus."


David menelisik wajah Pak Kades yang tengah tersenyum jemawa.


"Rencana apa?"


***


"Ma, Lusi masih hidup, kok, Ma ...."


"Lusi!" Liliana tersentak. Ia terbangun dari tidurnya seketika saat mendapati keningnya terasa dingin.


"Kamu sudah bangun," kata Mak Ijah yang duduk di sampingnya. Wanita sepuh itu mengangkat kain basah yang sejak tadi dikompreskan pada kening Liliana.


Pandangan Liliana menyapu setiap ruangan. Mimpi bertemu Lusi itu begitu nyata di benaknya.


"Sejak tadi, kamu menyebut nama Lusi. Kamu bermimpi bertemu Lusi?" Mak Ijah bertanya. Senyum tipis terukir di bibirnya yang kering.


"Lusi masih hidup, Mak."


Mak Ijah terdiam, menatap dalam wanita di sampingnya. Perempuan itu lantas mengembuskan napas.


"Lusi memang masih hidup."


Liliana seketika memandang wajah Mak Ijah. 


"Lusi masih hidup, dia hanya berpindah alam. Kamu tahu itu, kan?"


Liliana menggeleng.


"Lusi berada di alam barzakh, alam ketiga yang dihuni manusia. Alam yang berbeda dengan kita."


"Saya ketemu Lusi, Mak. Terasa begitu nyata. Dan dia bilang kalau dia masih hidup. Saya merasakannya, Mak ...." Mata Liliana basah. Perempuan itu tak kuasa menahan sesak di dadanya.


Mak Ijah memegang pundak Liliana, menatapnya lekat.


"Liana, itu hanya mimpi. Hanya bunga tidur," ucap Mak Ijah. "Karena kamu belum rela kehilangan Lusi, makanya seperti ini."


Wajah Liliana tertunduk. Ada benarnya ucapan Mak Ijah, ia tidak rela kehilangan Lusi. Pikirannya selalu terpaut pada gadis malang itu.


"Mak ...." Liliana menatap Mak Ijah dengan mata tergenang air mata.


"Bantu saya menemukan siapa yang menukar jenazah Lusi."


Mendengar ucapan Liliana, senyum kecil yang sedari tadi Mak Ijah sunggingkan seketika menguncup. Wanita baya itu terdiam. 


Ada raut enggan yang Liliana tangkap dari wajah Mak Ijah. 


Mak Ijah mengangguk kecil tak lama kemudian, lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Mak ...."


Mak Ijah menoleh.


"Siapa yang membawa saya ke sini?"


"Arman."


Liliana melihat alas yang dipakai tidur olehnya. Bukan tikar anyaman pandan seperti malam sebelumnya, melainkan kasur lantai. 


"Hari sudah pagi. Mandilah agar tubuhmu segar," ucap Mak Ijah. 


Setelah mandi hingga matahari meninggi, Liliana hanya bertemu dengan Arman saat sarapan. Setelahnya, Arman tidak lagi terlihat. 


Mak Ijah juga pergi pagi-pagi sekali. Katanya akan menyadap karet. Tidak banyak, hanya untuk mengisi waktu kosong.


Liliana yang bosan berada di rumah itu, berpikir untuk berkemas. Membersihkan rumah Mak Ijah tidak sampai membuat tenaganya terkuras. Setelah dari ruang depan, dapur, kamar yang ia tempati yang merukan kamar Arman, ia berlanjut ke kamar Mak Ijah.


Ada bau aneh saat daun pintu kamar Mak Ijah dibuka oleh Liliana. Wanita itu mengernyit, menajamkan penciuman. Bau kemenyan dan ... dari mana bau busuk itu berada?


Rasa ragu membuat Liliana mematung cukup lama di bawah bingkai pintu. Hingga akhirnya ia putuskan untuk masuk, mengabaikan bau busuk yang hilang-datang.


Tidak banyak barang yang ada di kamar itu. Liliana merapikannya, menyapu lantai, dan sarang laba-laba tipis di sudut langit-langit.


Liliana tidak menyentuh dupa di atas lemari kecil itu, di wadah yang terbuat dari tempurung kelapa. Sebagian orang desa memang masih membakar dupa setiap menjelang malam Selasa dan Jumat. 


Namun, saat hendak berbalik, ekor mata Liliana menangkap sebuah kain putih lusuh menyembul dari balik wadah tempurung tersebut.


Wanita itu berjalan dengan jantung berdegup kencang. Bau busuk semakin tajam saat Liliana mendekat dan mengulurkan tangan untuk menyentuh kain tersebut. 


Liliana menutup hidung.


"Apa ini?"


Kain kotor oleh tanah itu tergulung pada benda kecil sepanjang sekitar tiga atau empat senti. Ketika baru saja jarinya tersentuh, Liliana terbelalak saat melihat bercak darah ....


Bersambung


Buat yang mau baca lebih jauh, silakan ke kbm ya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nafsu birahi dengan mertua

Anak kandung

Cerita sex dengan mertua